this is adhisimon

adhisimon? who is he? who cares?

SynergySynergy lets you easily share a single mouse and keyboard between multiple computers with different operating systems without special hardware. It’s intended for users with multiple computers on their desk since each system uses its own display.

Jika anda memiliki beberapa PC pada satu meja dan ingin mengaksesnya secara mudah tanpa harus berpindah keyboard dan mouse, Synergy dapat menjadi solusi.

Mungkin aplikasi remote desktop/administration seperti VNC akan membantu anda jika anda ingin mengakses PC anda yang berada pada lokasi terpisah karena ia berfungsi men-sharing keyboard, mouse, dan display. Tetapi anda tidak butuh men-sharing display jika semua PC yang ingin anda akses berada pada satu meja dan masing-masing memiliki monitor. Seringkali bottleneck aplikasi remote seperti ini terletak pada pemrosesan untuk men-sharing display.

Berbeda dengan VNC dan aplikasi remote desktop/administration lainnya, Synergy hanya berfungsi men-sharing keyboard dan mouse saja. Synergy tidak men-sharing display anda. Hal ini sangat meningkatkan performansi. Tidak perlu ada pemrosesan berlebih untuk men-sharing display monitor anda.

Saat artikel ini ditulis, Synergy dapat berjalan pada Sistem Operasi MS Windows, Unix (termasuk Linux, dan Mac OS X. Sistem operasi yang digunakan dapat merupakan kombinasi dari sistem-sistem operasi tersebut.

this image hosted by ImageShack

Blender is the open source software for 3D modeling, animation, rendering, post-production, interactive creation and playback. Available for all major operating systems under the GNU General Public License.

Saya baru saja menemukan kalau ternyata ada aplikasi pembuat grafik 3D “mantap” di opensource, yaitu blender. Platform yang didukung saat artikel ini ditulis adalah: Windows 98/ME/2000/XP, Mac OS X PPC/Intel, Linux i386/PPC, Solaris, FreeBSD.

Berikut adalah contoh-contoh grafik yang dihasilkan oleh blender:

  peugeot contest

Saya bukanlah pemakai aplikasi pengolah grafik 3D. Tapi, menurut saya aplikasi ini sungguh menakjubkan. Mungkin merupakan alternatif bagi aplikasi-aplikasi 3D komersil seperti Autodesk 3ds Max. Membuat saya semakin bangga dengan komunitas opensource. Salut!

Baru saja diberi pinjaman webcamnya Irza untuk uji coba apakah kompatibel dengan Linux terutama FC5. Webcam tersebut adalah Logitech QuickCam Notebook Pro (USB, device id: 046d:08b1).

Ketika webcam tersebut dipasang ke port USB, langsung terdetect dan secara otomatis modul kernel pwc (kemungkinan merupakan singkatan dari: Phillips WebCam) aktif dan teregistrasi sebagai /dev/video0.

Selanjutnya ujicoba dengan menggunakan aplikasi camstream (bisa didownload dari repositori Fedora Extras). Ternyata hasil grabnya hanya menampilkan gambar abu-abu.

Setelah beberapa saat Googling, berhasil mendapatkan informasi dari dari posting-an milis gnomemeeting ini. Ternyata modul pwc harus diberi opsi tambahan “compression=0″.

$> rmmod pwc; modprobe pwc compression=0

Agar hotplug secara otomatis mengatur opsi tersebut tanpa harus mengetik baris tersebut tiap kali memasang webcam tersebut, dapat dibuat sebuah file di /etc/modprobe.d/ dengan isi file sebagai berikut:

options pwc compression=0

Setelah mengikuti petunjuk tersebut, camstream dapat menampilkan gambar dari webcam ini. Hasilnya cukup bagus. Namun ternyata ukuran yang bisa diambil hanya subQCIF (128×96), QSIF (160×120), dan QCIF (176×144). Bahkan pada QCIF, ukuran gambar sebenarnya adalah QSIF dengan bingkai abu-abu (gray) pada sisa ruang di pinggir (border). Pada dimensi diatas resolusi-resolusi tersebut, kembali didapatkan gambar abu-abu (gray) total.

Untuk masalah ini, belum ditemukan solusi. Untuk sementara, saya hanya berhasil menampilkan gambar dari Logitech QuickCam Notebook Pro ini hanya sampai QCIF saja (lebih tepatnya QSIF). Gambar sangat bagus tapi sayang sekali resolusinya terbatas karena permasalahan ini.

Selain dengan menggunakan camstream, juga dilakukan uji coba pada beberapa aplikasi linux lainnya. Pada ekiga (aplikasi IP telephony, VOIP, dan video conferencing nya GNOME), gambar yang dihasilkan menghasilkan bingkai abu-abu pada pinggiran gambar. Bahkan pada kopete (aplikasi instant messenger pada KDE) tidak menghasilkan gambar apapun. Hanya kotak hitam. Diduga hal ini diakibatkan oleh permasalahan resolusi diatas.

Distro Linux yang saya pakai sehari-hari adalah Fedora Core. Sebelumnya saya memakai distro RedHat Linux. Sebelum RedHat Linux, pada masa awal linux (ketika belum banyak pilihan distro Linux), saya juga pernah menggunakan Slackware

RedHat adalah salah satu distro terbesar linux. Banyak teknologi pada RedHat yang menjadi standar de facto dan digunakan pada distro lain, misal: RedHat Package Management (RPM). Pada awalnya, RedHat mengeluarkan seri RedHat Linux dan RedHat Enterprise Linux (RHEL). RedHat Linux adalah produk yang bersifat free (as a beer). Sedangkan RHEL adalah produk komersil. RedHat memungut biaya support kepada pengguna RHEL.

Pilihan saya pada waktu itu adalah RedHat Linux bukan RHEL karena gratis (apalagi waktu itu masih mahasiswa). Kalau tidak salah mengingat, saya mulai menggunakan RedHat Linux sejak seri RedHat Linux 5. Tetapi, setelah RedHat Linux 9 (RH9), RedHat memutuskan menghentikan seri RedHat Linux dan berkonsentrasi pada seri RHEL.

Sebenarnya, RedHat tidak menghentikan begitu saja seri RedHat Linux. RedHat menggagas dan mensponsori sebuah proyek baru di bidang linux dan open source, Fedora Project. Ide dasarnya adalah sebuah proyek yang disponsori oleh RedHat tetapi dikembangkan oleh komunitas besar opens ource (baca: bukan internal RedHat). Dengan kata lain, RedHat mengganti nama RedHat Linux menjadi Fedora Project dan menyerahkan pengembangannya kepada komunitas.

Di sinilah terjadi banyak kesalahan persepsi oleh banyak orang. Setelah lebih dari beberapa tahun (saya lupa tepatnya) RedHat beralih RH9 ke Fedora, hingga saat ini masih banyak orang menginstall RH9. Bukan karena pertimbangan stabilitas. Bukan pula karena pertimbangan sumber daya (pada umumnya software lama lebih hemat sumber daya dibanding software yang lebih baru). Tetapi karena menganggap bahwa RH9 adalah seri terbaru dari distro RedHat Linux.

Informasi lebih lanjut tentang sejarah Fedora Project dapat dilihat situs awal fedora di redhat atau situs resmi Fedora Project saat artikel ini ditulis.

Sebenarnya, RHEL adalah turunan dari Fedora Project. Atau lebih tepatnya Fedora adalah distro untuk menguji coba teknologi baru sebelum dimasukkan ke RHEL. Dalam hal ini RHEL lebih seperti Debian. RHEL adalah produk komersial yang harus dijaga kestabilannya. Hal ini berarti RedHat tidak bisa memasukkan secara terburu-buru suatu produk baru ke seri RHEL tanpa melihat dulu hasil uji pemakaian secara luas produk tersebut.

Ciri dari Fedora adalah “Bleeding-edge technology released early and often”. Jarak waktu antara satu versi dengan versi berikutnya bisa dikatakan sangat singkat (hitungan bulan, 2-3 kali dalam satu tahun). Hal ini memungkinkan teknologi baru dapat secara cepat diintegrasikan ke versi inti Fedora (Fedora Core).

Cepat terbitnya versi baru dari Fedora Core menjadikan Fedora tidak praktis untuk lingkungan komersial secara umum. Bayangkan jika anda harus mengupgrade (bukan mengupdate) server setiap 4 bulan sekali. Hal ini yang menjadi nilai lebih dari RHEL tetap menjadi pilihan bagi kalangan tertentu walaupun tidak bersifat gratis.

Mungkin timbul pertanyaan lagi. Mengapa saya dan banyak orang menggunakan Fedora? Banyak alasan yang saya miliki, apalagi ditambah alasan dari pengguna lain di seluruh dunia. Jawaban paling sederhana adalah Fedora merupakan distro paling identik dengan RedHat yang bersifat gratis alias free (as a beer). Ya, saya sudah sangat merasa nyaman mengadministrasi linux ala RedHat.

Sebenarnya ada alasan lain yang lebih dominan. Kembali ke “Bleeding-edge technology released early and often”. Hal ini memungkinkan saya banyak mencoba hal baru. Dengan mudah saya dapat mengaplikasikan topik-topik hangat di dunia open source. Bagaimana dengan kestabilan? Bagi saya itu tidak berpengaruh, bahkan hanya isapan jempol. Sifat “realesed early and often” bukan hanya pada major version saja, tetapi juga update per paket (package dalam hal ini RPM). Selain kecepatan terbit update terhadap suatu paket, saya juga mendapatkan kenyamanan dengan ketersediaan pilihan paket-paket dari pihak ketiga. Banyak repositori yang menyediakan paket-paket tambahan selain paket yang disediakan Fedora Core. Diantaranya adalah Fedora Extras (termasuk secara default dalam instalasi), Livna, FreshRPM, Dries, DAG. Livna merupakan standar bagi saya dalam arti merupakan repositori wajib. Walaupun bukan standar (saya disable) bagi saya, saya kadang-kadang mencari paket pada FreshRPM, Dries, dan DAG yang juga tergabung dalam RPMforge.

Tentu saja ada konsekuensi dari pilihan saya tersebut. Pada server-server yang saya administrasikan, saya tidak melakukan upgrade setiap versi baru dari Fedora Core diterbitkan. Bagi saya upgrade versi terlalu beresiko. Saya lebih suka mengupdate paket per paket RPM hingga berhentinya support terhadap versi yang saya gunakan. Biasanya saya mempertahankan setiap server pada versi suatu Fedora Core sekitar 2-4 tahun sampai versi tersebut benar-benar dihentikan update supportnya. Ketika Fedora Project menghentikan support terhadap suatu versi, versi tersebut akan pindah ke Fedora Legacy. Pada masa tersebut, update paket-paket RPM dapat diperoleh dari Fedora Legacy. Ketika Fedora Legacy menghentikan support terhadap versi itu, barulah saya akan beralih ke versi terbaru dari Fedora Core. Menurut saya, usia 2-4 tahun merupakan usia yang cukup buat suatu server.

Jadi, silahkan coba Fedora… Atau mungkin anda memiliki pandangan lain? Karena itulah inti dari banyak beredarnya distro-distro Linux. Semua punya rasa sendiri walaupun pada intinya adalah satu, Linux.

PS: Saya sangat mengharapkan adanya komentar-komentar mengenai hal ini. Silahkan berkomentar. Positif maupun negatif (tentu saja ada batasan yang pasti anda ketahui). Atau anda butuh bantuan, jangan ragu-ragu kontak saya.

I have modified a wrapper script written by Tony J. White (tjw at tjw
dot org, http://tjw.org/vim-vfs/) so it can be put on nautilus-script.

This is a simple wrapper to make vim support gnome-vfs

You can see it at:
http://adhisimon.pastebin.com/764904


Saya baru saja memodifikasi sebuah script buatan Tony J. White (tjw at tjw
dot org, http://tjw.org/vim-vfs/).

Script ini adalah pembungkus yang memungkinkan vim mendukung penggunaan gnome-vfs langsung dari nautilus.

Kode sumber dapat dilihat di:
http://adhisimon.pastebin.com/764904

Akhirnya, bisa posting lagi pake drivel dgn method atom. Gak tahu kenapa kemaren seharian gak bisa konek.

Jika kita naik pangkat jadi root melalui “sudo su -” di Fedora Core 5 (FC5), kita tidak akan bisa menjalankan program X11 melalui shell tersebut.

Hal ini dikarenakan sudo mereset semua environtment variable kecuali yang dinyatakan pada “env_keep” di file /etc/sudoers”.

Untuk mengatasinya, edit file “/etc/sudoers” dengan perintah “visudo” dan tambahkan “XAUTORITHY” pada “env_keep”.

Selamat mencoba…


Baru saja selesai membaca sebuah artikel slashdot tentang proyek pembuatan laptop murah $100. Info lebih lanjut dapat juga dilihat di OLPC (One Laptop per Child).

Kira-kira Indonesia kebagian gak ya..?

Tahu iTunes (iTunes di wikipedia)? Atau DAAP?

Pemilik iPod pasti akrab dengan iTunes. Tapi saya tidak bermaksud ngomongin iPod. Saya mau ngebahas cara saling sharing lagu-lagu pada satu segmen jaringan dengan menggunakan DAAP, protokol yang digunakan iTunes. Berikut kutipan dari wikipedia:

The Digital Audio Access Protocol (DAAP) is the protocol used by Apple’s iTunes 4.0 digital audio player to share music across a network or the Internet. Apple has not officially released a protocol description, but it has been reverse-engineered to a sufficient degree that reimplementations of the protocol for non-iTunes platforms have been possible. In fact, a DAAP server is simply a specialized HTTP server which sends song list and requested songs to clients.

Kalau dahulu kita biasa sharing lagu dengan menshare folder tempat file-file MP3 lewat fasilitas file sharing nya M$ Windows dan Sambanya linux dan kawan-kawan. Kini ada cara yang lebih menyenangkan, lewat DAAP nya iTunes.

Tentu saja, untuk sesama pengguna iTunes, hal ini sederhana. Jalankan iTunes di tiap PC, jangan lupa nyalain “Share My Library”, atau sejenisnya.. maaf kurang hafal pastinya, soalnya lagi gak pake windows nih. Langsung lagu-lagu di PC lain yang berada dalam satu segmen jaringan nongol di PC kita. Semua berkat DAAP. Bahkan kita bisa secara otomatis nge-browse berdasarkan artis, genre, album, dan lain-lain, asalkan lagu-lagu tersebut valid tag id3-nya.

Tapi gimana kalau kita pakai Linux? Padahal iTunes tidak ada versi Linuxnya. Cuma ada versi Mac dan Windowsnya doang. No problem. DAAP dah cukup di reverse enginering. Banyak aplikasi non Apple yang bisa akses DAAP. Beberapa bahkan berbasis Java sehingga tidak tergantung oleh platform OS yang digunakan. Beberapa aplikasi yang banyak digunakan dapat dilihat di wikipedia.

Belakangan saya suka pake Rhythmbox di Linux. Aplikasi native gnome (kalo gak salah). Soalnya gampang buat nge manage koleksi lagu-lagu yang ada di notebook saya. Plus, sesuai dengan topik, Rhythmbox support DAAP. Dari Rhythmbox, kita bisa akses lagu-lagu di PC lain yang jalanin iTunes (tentu saja kalau PC itu di set untuk mensharing koleksinya).

Sebenarnya, LimeWire, salah satu aplikasi P2P yang paling populer, juga mendukung iTunes. LimeWire bisa di-set untuk mensharing file via DAAP. Cukup nyalakan fasilitas sharing di sub menu iTunes di menu Options. Tapi sayangnya, setahu saya, LimeWire hanya berfungsi sebagai server DAAP saja. Jadi, LimeWire hanya bisa mensharing lagu via DAAP tapi tidak bisa mengambil lagu via DAAP. Sialnya lagi, share-an DAAP dari LimeWire tidak bisa di browse oleh iTunes terbaru kecuali dinyalakan “Compability Mode” nya di LimeWire yang mana tidak aktif secara default.

Nah ini dia salah satu nilai plus nya Rhythmbox. Selain berfungsi sebagai klien dan server, berdasar pengalaman saya, Rhythmbox adalah satu-satunya yang bisa mengakses hasil share LimeWire via DAAP tanpa harus mengaktifkan “Compability Mode”. Coba saja akses sharing nya LimeWire via aplikasi-aplikasi DAAP lain. Memang host LimeWire terlihat di aplikasi tersebut, tapi ketika kita klik, mental! Termasuk iTunes. Jadi pastikan untuk mengaktifkan “Compability Mode” di LimeWire. Tapi tentu saja akan repot jika kita harus “memaksa” kawan-kawan kita untuk menyalakan “Compability Mode” karena akan membuat LimeWire lebih berat dan sloweeeer.

Tentu saja Rhythmbox ada kelemahan. Kelemahan utama adalah belum tersedianya fasilitas editor tag ID3. Dibutuhkan aplikasi eksternal untuk mengedit tag ID3 koleksi lagu-lagu kita. Padahal, alangkah menyenangkan jika kita dapat mengedit tag ID3 langsung dari Rhythmbox.

Sebagai alternatif, sebenarnya ada Banshee. Banshee sangat mirip dengan Rhythmbox. Tapi saya kurang menyukainya karena Banshee agak berat. Mungkin dikarenakan Banshee berbasis Mono (implementasi dotNet versi Open Source). Selain itu, Banshee juga mengalami masalah untuk mengakses sharing DAAP nya LimeWire yang tidak aktif “Compability Mode” nya. Dan saya sering mengalami masalah dengan Banshee, seperti crash.

Fitur lain yang kurang dari Rhythmbox (juga Banshee) adalah tidak adanya equalizer. Kalau tidak salah sih sedang dalam tahap pengembangan. Semoga cepat terealisasi.

Aslinya, Rhythmbox dan Banshee hanya dapat memainkan lagu yang di share. Tapi tidak tersedia fasilitas mendownload/mensave lagu tersebut ke PC kita. Begitu juga dengan iTunes. Kalau ingin meng-copy file remote ke lokal, coba beberapa aplikasi java yang terdapat pada link di wikipedia yang telah disebutkan. Tapi bagaimana untuk mengcopy lagu dari LimeWire yang tidak aktif “Compability Mode” nya?

Ini dia triknya. Di Rhythmbox, klik kanan lagu yang ingin download. Klik “Properties” akan muncul pop-up detail lagu tersebut. Klik tab “Details” di window tersebut. Gabungkan informasi di “Location” ditambah “/” dan “File Name” . Misal “Location: daap://192.168.0.105:5214/databases/1/items” dan “File Name: 16.m4a?session-id=628756987″, maka anda mendapatkan url lagu tersebut, yaitu “daap://192.168.0.105:5214/databases/1/items/16.m4a?session-id=628756987″. Ganti protokol daap dengan http sehingga menjadi “http://192.168.0.105:5214/databases/1/items/16.m4a?session-id=628756987″. Yup, tentu saja karena DAAP sebenarnya menggunakan protokol HTTP, jadi kita bisa menukarnya agar bisa diakses via web browser. Masukkan url tersebut ke web browser. Zaaap…. tinggal pilih save ketika web browser anda menanyakan apa yang ingin anda lakukan. Jangan lupa save dengan nama file yang sesuai. Atau anda juga bisa menggunakan wget.


$> wget -O <nama file yang ingin di save> http://192.168.0.105:5214/databases/1/items/16.m4a?session-id=628756987

misal:

$> wget -O "lagu da di du.m4a" http://192.168.0.105:5214/databases/1/items/16.m4a?session-id=628756987

Selamat mencoba……

My main desktop is Linux Fedora Core 5 (FC5). For my daily activities (web programming and network administration), I feel much more comfortable to use it than using M$ Windows. But how about the entertainment? Entertainment is a place where many peoples think linux is suck. But not me.

You wanna view mpeg, avi, vcd, dvd movies? You can use MPLAYER. Or you can use gstreamer’s based player like totem. Another alternative is VLC (initially VideoLAN Client). But I have no lucks with VLC in FC5.

Of course, you can use video player have been described to listen the music. But for special purpose music listening, there are a lot of many great application you can use. First, there is XMMS, a player with an interface similar to Winamp’s (i prefer to say it as a clone). If you prefer using GTK2 as a based, you can try Beep Media Player (BMP). BMP is a fork of XMMS. But, because it’s based on GTK2, it provides Gnome VFS support so you can play any file as you browse it on Nautilus (correct me if I’m wrong). But BMP is discontinued, and has a new brand BMPx. BMPx is the continuation of the XMMS-based BMP (sometimes referred to by people as “BMP classic”) as a product, but it shares almost no code with it at all, and has been generally rewritten from the ground up with none of the old code in mind. Sadly, I don’t like BMPx. It’s still not mature enough.

If you like Apple iTunes, try Rhythmbox. It support’s DAAP Protocol so you can access and share the music on your LAN. For another alternative, use mono based Banshee. If you have problem accessing file via DAAP and you are using ndiswrapper wireless adapter, try to use the cable.

What about gaming? One of game I play a lot is OpenTTD, a remake and improvement of Transport Tycoon Deluxe.