this is adhisimon

adhisimon? who is he? who cares?

Jika anda menggunakan notebook/laptop bersistem operasi Linux, tentu anda tidak selalu terhubung dengan jaringan lokal (LAN, Local Area Network), baik jaringan kabel ataupun nirkabel (wireless, wifi). Jika notebook anda terkonfigurasi menggunakan IP dinamis dari DHCP, anda akan mendapatkan pesan error ketika proses start-up linux di notebook/laptop anda bila tidak terhubung dengan jaringan.

Atau mungkin anda sering menggunakan koneksi nirkabel WiFi baik di rumah, kantor, atau hotspot publik? Anda merasa direpotkan mengubah-ubah untuk file konfigurasi atau menggunakan CLI (Command Line Interface) untuk memilih access point mana yang ingin anda pilih.

Untung kini ada NetworkManager yang dapat mengotomasi koneksi jaringan anda.

Read the rest of this entry »

Berhubung banyak komentar dan email mengenai instalasi dan konfigurasi Linux khususnya Fedora (pada posting Fedora Core Linux dan Fedora Core 6 alias FC6 alias Zod), saya jadi tertarik berbagi “ilmu”. Mungkin “ilmu” ini bukanlah jawaban yang diharapkan oleh para penanya, dimana sang penanya menginginkan jawaban langsung step-by-step konfigurasi dari saya. Tapi menurut saya inilah yang terbaik. Sebab yang akan saya ceritakan adalah “pangkal” atau “sumber” dari yang saya ketahui.

Mengapa saya menulis posting ini? Karena saya bingung ketika ditanya langkah-langkah untuk instalasi dan konfigurasi suatu sistem Linux. Apalagi yang ditanya biasanya bisa dikatakan instalasi dan konfigurasi suatu server lengkap (mail server, NAT, proxy, web server). Bisa panjang jawaban saya. Dan menurut saya ini tidak mendidik.

Pertama, untuk pertanyaan bagaimana cara menggunakan Fedora Core Linux, dapat dibaca di Fedora Documentation on docs.fedoraproject.org. Di sini dapat ditemukan Installation Guide dan Desktop User Guide. Untuk newbie, saya anjurkan untuk memahami dahulu dokumentasi tersebut.

Untuk informasi tentang fungsi-fungsi yang lebih “advanced”, anda dapat mencari di The Linux Documentation Project (TLDP). Bagi yang telah akrab dengan dunia Open Source tentu mengenal apa yang disebut HOWTO. Terjemah bebas dari apa itu HOWTO pada wikipedia adalah:

How-to adalah deskripsi informal, biasanya singkat, bagaimana mewujudkan suatu tugas.

Di TLDP inilah anda dapat menemukan HOWTO yang berisi informasi-informasi lebih lanjut mengenai bagaimana menyelesaikan suatu pekerjaan di Linux. Di sinilah kita harus rajin membaca, karena banyak sekali HOWTO menarik disini, diantaranya adalah Advanced Networking (favorit saya). Percayalah, sebagian besar pengetahuan saya tentang Linux didapat dari membaca HOWTO. Dan jangan takut untuk mencoba mempelajarinya, karena biasanya HOWTO ditulis sedemikian rupa sehingga orang yang tak berpengalaman dapat mengikuti langkah-langkah yang disajikan.

Dengan menyarankan untuk membaca, bukan saya tidak mau menjelaskan secara langsung. Akan tetapi saya ingin agar para penanya mendapat pengetahuan dasar terlebih dahulu. Agar saya lebih mudah menjelaskan hal-hal khusus secara spesifik. Jadi, setelah membaca hal-hal di atas, jangan ragu untuk mengirim kembali pesan kepada saya, untuk berdiskusi lebih lanjut.

Dahulu, jika kita ingin mengakses removable media pada Linux seperti CDROM, flashdisk, harddisk ekternal, kita harus melakukan “mount” secara manual. Akan tetapi pada beberapa distro, kini telah tersedia fasilitas automount. Hal ini cukup menyenangkan. Anda tidak perlu melakukan mount secara manual ketika anda “menancapkan” flashdisk ke slot USB.

Permasalahan timbul pada instalasi Fedora Core 5 (FC5) saya. Fasilitas automount secara umum dapat berjalan dengan baik. Hanya ada satu masalah. Jika saya login sebagai user biasa (non root), saya tidak dapat mengakses partisi NTFS pada flashdisk atau eksternal harddisk saya yang secara otomatis ter-mount dengan option hanya dapat diakses oleh root. Saya sadar hal ini mungkin disebabkan oleh pertimbangan keamanan. Tapi hal ini cukup mengganggu aktifitas harian saya.

Apakah saya menyerah dan melakukan mount manual pada partisi NTFS tersebut? Tidak!! Setelah melakukan googling yang cukup lama, akhirnya saya mendapatkan solusinya pada sebuah diskusi di FedoraForum.

Solusinya cukup mudah. Pertama kita membutuhkan sebuah policy baru untuk ditambahkan ke HAL. Buat saja sebuah file “/usr/share/hal/fdi/policy/10osvendor/95-ntfs-permissions.fdi” yang berisi:

<?xml version="1.0" encoding="ISO-8859-1"?> <!-- -*- SGML -*- --> <deviceinfo version="0.2"> <!-- Mount external ntfs drives with user privileges --> <device> <match key="block.is_volume" bool="true"> <match key="volume.fsusage" string="filesystem"> <match key="@block.storage_device:storage.no_partitions_hint" bool="false"> <match key="volume.partition.msdos_part_table_type" exists="true"> <match key="volume.partition.msdos_part_table_type" int="0x07"> <merge key="volume.mount_option" type="string">umask=0222</merge> </match> </match> </match> </match> </match> </device> </deviceinfo>

Kemudian restart HAL daemon dengan mengksekusi perintah: service haldaemon restart.

Kemudian edit file “/usr/share/hal/scripts/hal-system-storage-mount”. Tepat setelah semua MOUNTOPTIONS (setelah “fi”, sebelum echo yang di comment), tambahkan baris berikut:

fi

MOUNTOPTIONS="$MOUNTOPTIONS,$HAL_PROP_VOLUME_MOUNT_OPTION"

# echo "options = '$MOUNTOPTIONS'"

Sekarang, silahkan coba tancapkan kembali flashdisk atau harddisk eksternal anda yang memiliki partisi NTFS.

Pada notebook Acer Aspire 3003 saya, terdapat dua tombol keyboard dengan simbol € (eurosign). Satu pada tombol 5 (bersama-sama dengan angka 5 dan %), satu lagi disamping kiri keypad Up. Keduanya tidak aktif secara default pada Linux Fedora Core 5 saya.

Read the rest of this entry »

fedoraTanggal 24 Oktober 2006 lalu ternyata bukan hanya perayaan Idul Fitri bagi sebagian muslim (ada sebagian yang merayakan pada tanggal 23 Oktober 2006), tetapi juga hari releasenya Fedora Core 6 alias FC6 alias Zod.

Read the rest of this entry »

GaimSelama ini saya mengunaka kopete sebagai aplikasi instant messaging, terutama sebagai pengganti yahoo messenger di Linux. Sebelum menggunakan kopete, saya menggunakan Gaim bawaan distro desktop saya, Fedora Core 5, yaitu Gaim 1.5.

Mengapa saya menggunakan kopete? Karena saya merasa ada beberapa hal yang saya butuhkan yang tidak difasilitasi oleh Gaim 1.5. Diantaranya adalah:

Read the rest of this entry »

Distro Linux yang saya pakai sehari-hari adalah Fedora Core. Sebelumnya saya memakai distro RedHat Linux. Sebelum RedHat Linux, pada masa awal linux (ketika belum banyak pilihan distro Linux), saya juga pernah menggunakan Slackware

RedHat adalah salah satu distro terbesar linux. Banyak teknologi pada RedHat yang menjadi standar de facto dan digunakan pada distro lain, misal: RedHat Package Management (RPM). Pada awalnya, RedHat mengeluarkan seri RedHat Linux dan RedHat Enterprise Linux (RHEL). RedHat Linux adalah produk yang bersifat free (as a beer). Sedangkan RHEL adalah produk komersil. RedHat memungut biaya support kepada pengguna RHEL.

Pilihan saya pada waktu itu adalah RedHat Linux bukan RHEL karena gratis (apalagi waktu itu masih mahasiswa). Kalau tidak salah mengingat, saya mulai menggunakan RedHat Linux sejak seri RedHat Linux 5. Tetapi, setelah RedHat Linux 9 (RH9), RedHat memutuskan menghentikan seri RedHat Linux dan berkonsentrasi pada seri RHEL.

Sebenarnya, RedHat tidak menghentikan begitu saja seri RedHat Linux. RedHat menggagas dan mensponsori sebuah proyek baru di bidang linux dan open source, Fedora Project. Ide dasarnya adalah sebuah proyek yang disponsori oleh RedHat tetapi dikembangkan oleh komunitas besar opens ource (baca: bukan internal RedHat). Dengan kata lain, RedHat mengganti nama RedHat Linux menjadi Fedora Project dan menyerahkan pengembangannya kepada komunitas.

Di sinilah terjadi banyak kesalahan persepsi oleh banyak orang. Setelah lebih dari beberapa tahun (saya lupa tepatnya) RedHat beralih RH9 ke Fedora, hingga saat ini masih banyak orang menginstall RH9. Bukan karena pertimbangan stabilitas. Bukan pula karena pertimbangan sumber daya (pada umumnya software lama lebih hemat sumber daya dibanding software yang lebih baru). Tetapi karena menganggap bahwa RH9 adalah seri terbaru dari distro RedHat Linux.

Informasi lebih lanjut tentang sejarah Fedora Project dapat dilihat situs awal fedora di redhat atau situs resmi Fedora Project saat artikel ini ditulis.

Sebenarnya, RHEL adalah turunan dari Fedora Project. Atau lebih tepatnya Fedora adalah distro untuk menguji coba teknologi baru sebelum dimasukkan ke RHEL. Dalam hal ini RHEL lebih seperti Debian. RHEL adalah produk komersial yang harus dijaga kestabilannya. Hal ini berarti RedHat tidak bisa memasukkan secara terburu-buru suatu produk baru ke seri RHEL tanpa melihat dulu hasil uji pemakaian secara luas produk tersebut.

Ciri dari Fedora adalah “Bleeding-edge technology released early and often”. Jarak waktu antara satu versi dengan versi berikutnya bisa dikatakan sangat singkat (hitungan bulan, 2-3 kali dalam satu tahun). Hal ini memungkinkan teknologi baru dapat secara cepat diintegrasikan ke versi inti Fedora (Fedora Core).

Cepat terbitnya versi baru dari Fedora Core menjadikan Fedora tidak praktis untuk lingkungan komersial secara umum. Bayangkan jika anda harus mengupgrade (bukan mengupdate) server setiap 4 bulan sekali. Hal ini yang menjadi nilai lebih dari RHEL tetap menjadi pilihan bagi kalangan tertentu walaupun tidak bersifat gratis.

Mungkin timbul pertanyaan lagi. Mengapa saya dan banyak orang menggunakan Fedora? Banyak alasan yang saya miliki, apalagi ditambah alasan dari pengguna lain di seluruh dunia. Jawaban paling sederhana adalah Fedora merupakan distro paling identik dengan RedHat yang bersifat gratis alias free (as a beer). Ya, saya sudah sangat merasa nyaman mengadministrasi linux ala RedHat.

Sebenarnya ada alasan lain yang lebih dominan. Kembali ke “Bleeding-edge technology released early and often”. Hal ini memungkinkan saya banyak mencoba hal baru. Dengan mudah saya dapat mengaplikasikan topik-topik hangat di dunia open source. Bagaimana dengan kestabilan? Bagi saya itu tidak berpengaruh, bahkan hanya isapan jempol. Sifat “realesed early and often” bukan hanya pada major version saja, tetapi juga update per paket (package dalam hal ini RPM). Selain kecepatan terbit update terhadap suatu paket, saya juga mendapatkan kenyamanan dengan ketersediaan pilihan paket-paket dari pihak ketiga. Banyak repositori yang menyediakan paket-paket tambahan selain paket yang disediakan Fedora Core. Diantaranya adalah Fedora Extras (termasuk secara default dalam instalasi), Livna, FreshRPM, Dries, DAG. Livna merupakan standar bagi saya dalam arti merupakan repositori wajib. Walaupun bukan standar (saya disable) bagi saya, saya kadang-kadang mencari paket pada FreshRPM, Dries, dan DAG yang juga tergabung dalam RPMforge.

Tentu saja ada konsekuensi dari pilihan saya tersebut. Pada server-server yang saya administrasikan, saya tidak melakukan upgrade setiap versi baru dari Fedora Core diterbitkan. Bagi saya upgrade versi terlalu beresiko. Saya lebih suka mengupdate paket per paket RPM hingga berhentinya support terhadap versi yang saya gunakan. Biasanya saya mempertahankan setiap server pada versi suatu Fedora Core sekitar 2-4 tahun sampai versi tersebut benar-benar dihentikan update supportnya. Ketika Fedora Project menghentikan support terhadap suatu versi, versi tersebut akan pindah ke Fedora Legacy. Pada masa tersebut, update paket-paket RPM dapat diperoleh dari Fedora Legacy. Ketika Fedora Legacy menghentikan support terhadap versi itu, barulah saya akan beralih ke versi terbaru dari Fedora Core. Menurut saya, usia 2-4 tahun merupakan usia yang cukup buat suatu server.

Jadi, silahkan coba Fedora… Atau mungkin anda memiliki pandangan lain? Karena itulah inti dari banyak beredarnya distro-distro Linux. Semua punya rasa sendiri walaupun pada intinya adalah satu, Linux.

PS: Saya sangat mengharapkan adanya komentar-komentar mengenai hal ini. Silahkan berkomentar. Positif maupun negatif (tentu saja ada batasan yang pasti anda ketahui). Atau anda butuh bantuan, jangan ragu-ragu kontak saya.

Habis nemu wallpaper menarik buat Fedora Core gua di blog ini.

I have modified a wrapper script written by Tony J. White (tjw at tjw
dot org, http://tjw.org/vim-vfs/) so it can be put on nautilus-script.

This is a simple wrapper to make vim support gnome-vfs

You can see it at:
http://adhisimon.pastebin.com/764904


Saya baru saja memodifikasi sebuah script buatan Tony J. White (tjw at tjw
dot org, http://tjw.org/vim-vfs/).

Script ini adalah pembungkus yang memungkinkan vim mendukung penggunaan gnome-vfs langsung dari nautilus.

Kode sumber dapat dilihat di:
http://adhisimon.pastebin.com/764904

Jika kita naik pangkat jadi root melalui “sudo su -” di Fedora Core 5 (FC5), kita tidak akan bisa menjalankan program X11 melalui shell tersebut.

Hal ini dikarenakan sudo mereset semua environtment variable kecuali yang dinyatakan pada “env_keep” di file /etc/sudoers”.

Untuk mengatasinya, edit file “/etc/sudoers” dengan perintah “visudo” dan tambahkan “XAUTORITHY” pada “env_keep”.

Selamat mencoba…