Damn, filesystem di sukhoi mengalami masalah. Sialnya, kerusakan paling parah terdapat di direktori /etc. Hiks!!!
Baru saja saya akan menulis tentang kembalinya gravatar. Tetapi ternyata saat ini dia sedang down lagi. Pesan error yang ditampilkan adalah:
The server is temporarily unable to service your request due to maintenance downtime or capacity problems. Please try again later.
Additionally, a 503 Service Temporarily Unavailable error was encountered while trying to use an ErrorDocument to handle the request.
Kemungkinan error seperti itu biasanya diakibatkan oleh penggunaan bandwidth yang overquota. capek deeech.
Di situs Gravatar, disebutkan bahwa mereka akan beroperasi kembali pada awal Februari. Akan tetapi, hingga kini, ketika awal Februari sudah hampir terlewati, belum ada tanda-tanda pembuktian janji tersebut. Ini bukan pertamakali Gravatar menjanjikan waktu beroperasinya kembali. Sampai kapan anda akan terus membuat janji? Atau mungkin saya terlalu cepat menyimpulkan arti Februari, karena tidak disebutkan tahunnya. Mungkin maksudnya bukan Februari 2007, tetapi Februari 2008, atau mungkin Februari 2020?
Gravatar, kami ingin bukti, bukan janji! Stop membuat pernyataan yang tidak dapat anda yakini apakah dapat anda penuhi atau tidak.
Pertama-tama, izinkanlah saya mengucapkan selamat datang di dunia blog kepada kawan saya Sophie. Jangan salah, sophie itu panggilan akrab saya untuk seorang pria yang sebenarnya bernama Sofian Sahori. Seorang mantan mitra usaha saya. Satu lagi kawan berhasil saya racuni untuk ngeblog. Cihuy :D
Pada posting pertama di blog tersebut, beliau menyatakan tidak mengerti mengapa saya memintanya untuk menulis blog. Oleh karena itu, kembali saya menulis sebuah topik yang rasanya tidak akan pernah berkesudahan: Mengapa ngeblog?
Um boom ba bay
Um boom ba bay
Um Um boom ba bay bay
Pressure pushing down on me
Pressing down on you no man ask for
Under pressure
That burns a building down
Splits a family in two
Puts people on streets
Um ba ba bay
Um ba ba bay
Dee day duh
Ee day duh
It’s the terror of knowing
What this world is about
Watching some good friends
Screaming get me out!
Tomorrow takes me higher
Pressure on people
People on streets
Day day day
da da dup bup bup
Okay
Chippin’ around
kick my brains round the floor
These are the days
It never rains but it pours
Ee do bay bup
Ee do bay ba bup
Ee do bup
Bay bup
People on streets
Dee da dee da day
People on streets
Dee da dee da dee da dee da
It’s the terror of knowing
What this world is about
Watching some good friends
Screaming let me out!
Tomorrow takes me high high higher
Turned away from it all
Like the blind man
Sat on a fence but it don’t work
Keep coming up with love
But it’s so slashed and torn
Why why why?
(Love, love, love, love)
Insanity laughs under pressure we’re cracking
Can’t we give ourselves one more chance?
Why can’t we give love that one more chance?
Why can’t we give love give love give love?
Give love give love give love give love give love give love?
Cause love’s such an old fashioned word
And love dares you to care
For the people on the edge of the night
And love dares you to change our way
Of caring about ourselves
This is our last dance
This is our last dance
This is ourselves
Under Pressure
Under Pressure
Pressure
PERHATIAN: Isi tulisan ini sangat bersifat pandangan pribadi yang mungkin tidak disetujui oleh banyak pihak atau bahkan mungkin sebaliknya, terlalu umum sehingga dapat disebut BASBANG (Basi Banget). Bahkan penulis merasa bahwa tulisan ini sangat bertele-tele.
Beberapa waktu lalu, ramai dibicarakan oleh “netter” mengenai pemberian komentar pada blog seleb dan non seleb, termasuk “jablai blog” juga diributkan (mohon maaf buat para warga kampung gajah, saya mengutip istilah jablai blog walaupun saya bukanlah anggota kalian). Diceritakan bahwa banyak kawan frustasi karena blognya sepi pengunjung, dal hal ini ditandai oleh sepi atau bahkan tidak adanya komentar pada blog mereka. Padahal, mereka merasa “cukup rajin” dalam berkomentar pada blog-blog lain, khususnya blog seleb. Hal ini sampai memancing timbulnya “lelucon” gerakan agar tidak berkomentar di blog seleb, sehingga diharapkan menimbulkan “keseimbangan komentar” antar blog pemula maupun blog seleb.
Hari ini, tanggal 2 Januari 2007 adalah ulang tahun ibunda tercinta. Selamat ulang tahun mah…
Selamat datang tahun 2007
Hari ini adalah ultah ayah saya yang ke 65. Selamat ulang tahun pah….
Pada banyak weblog, seringkali kita menemui avatar pada bagian komentar-komentar. Saat ini, bisa dikatakan secara de-facto solusi avatar yang paling banyak digunakan adalah dengan menggunakan Gravatar. Gravatar memungkinkan pengunjung weblog tidak perlu mendaftarkan dirinya pada tiap-tiap weblog agar avatarnya muncul dalam setiap komentar yang dibuatnya. Cukup memasukkan alamat email yang dimiliki oleh sang pengunjung, secara otomatis avatar terkait akan muncul pada komentar tersebut.
Tapi kini Gravatar memiliki masalah setelah berbulan-bulan berada dalam posisi “DOWN”. Di masa awalnya, sistem “tersentralisasi” yang dianut oleh Gravatar tidak dirancang untuk melayani avatar sebanyak saat ini. Dikatakan bahwa Gravatar melayani lebih dari 4,5 miliar avatar saat ini. Akhirnya dilakukan update terhadap sistem lama untuk memenuhi kebutuhan saat ini. Tetapi perbaikan ini berlarut-larut. Setelah berbulan-bulan menunggu, tampaknya saya tidak dapat menahan kesabaran saya lagi terhadap Gravatar. Begitu pula dengan banyak pihak. Tampaknya, Gravatar akan kehilangan statusnya sebagai penguasa de-facto avatar dalam dunia weblog. Kecuali dia berhasil mengonline-kan kembali layanan dalam waktu dekat.
Beberapa alternatif telah saya coba. Diawali dengan Favatars. Favatar menggunakan favicon dari URL sang pengunjung yang memberikan komentar. Berdasar URL tersebut, sistem akan dilihat apakah website tersebut memili favicon. Jika ada, favicon tersebut akan ditampilkan. Desentralisasi terjadi di sini karena avatar yang merupakan favicon tersebut diambil langsung dari situs web pemilik komentar. Sehingga ketergantungan akan satu pihak penyedia jasa dapat dihindari. Masalahnya, tidak semua pengunjung yang memberikan komentar memiliki situs web dan/atau dapat mengatur favicon terkait. Berbeda dengan gravatar yang menggunakan alamat email sebagai ID dimana bisa dikatakan hampir semua pengunjung pasti memiliki alamat email. Selain itu, belum tentu favicon dari situs yang dimiliki oleh pengunjung tersebut dikehendaki oleh sang pengunjung sebagai avatarnya. Sebagai contoh, blogger yang memiliki blog wordpress.com akan memiliki avatar berupa logo WordPress, bukan foto dirinya seperti kebanyakan yang diinginkan banyak orang.
Kemudian ada lagi Pavatar. Sama dengan Favatar, ia menganut sistem desentralisasi sehingga kebal terhadap masalah “DOWN” satu pihak yang dapat mengakibatkan “DOWN” seluruh sistem. Perbedaannya adalah dia tidak menggunakan favicon situs web pengunjung. Pavatar menggunakan file gambar yang bisa ditentukan oleh halaman indeks dari situs web pengunjung. Hal ini menjawab masalah kedua dari Favatar, dimana pengunjung dapat menentukan apakah favicon yang dimiliki olehnya juga menjadi avatar dirinya atau tidak. Akan tetapi permasalahan pertama dari Favatar, dimana tidak semua pengunjung memiliki situs web, tidak dapat terselesaikan.
Kembali ke model sentralisasi. Lepas dari masalah skalabilitas sistem, bisa dikatakan hanya model ini yang memungkinkan pengunjung-pengunjung memiliki avatar tanpa harus memiliki situs web atau mendaftarkan dirinya di tiap weblog. Hal ini mendorong penggunaan layanan-layanan lain sebagai pengganti Gravatar. Diantaranya adalah dengan menggunakan avatar pada MyBlogLog. Saat ini saya sedang mencoba penggunaan metoda ini. Plugin yang saya gunakan agar instalasi WordPress saya ini dapat menggunakan avatar dari MyBlogLog adalah MyAvatars. Sayangnya, MyBlogLog tidak sepopuler Gravatar. Tidak banyak pengunjung yang memiliki avatar pada MyBlogLog.
Atau mungkin ada ide alternatif lain?




