this is adhisimon

adhisimon? who is he? who cares?

Distro Linux yang saya pakai sehari-hari adalah Fedora Core. Sebelumnya saya memakai distro RedHat Linux. Sebelum RedHat Linux, pada masa awal linux (ketika belum banyak pilihan distro Linux), saya juga pernah menggunakan Slackware

RedHat adalah salah satu distro terbesar linux. Banyak teknologi pada RedHat yang menjadi standar de facto dan digunakan pada distro lain, misal: RedHat Package Management (RPM). Pada awalnya, RedHat mengeluarkan seri RedHat Linux dan RedHat Enterprise Linux (RHEL). RedHat Linux adalah produk yang bersifat free (as a beer). Sedangkan RHEL adalah produk komersil. RedHat memungut biaya support kepada pengguna RHEL.

Pilihan saya pada waktu itu adalah RedHat Linux bukan RHEL karena gratis (apalagi waktu itu masih mahasiswa). Kalau tidak salah mengingat, saya mulai menggunakan RedHat Linux sejak seri RedHat Linux 5. Tetapi, setelah RedHat Linux 9 (RH9), RedHat memutuskan menghentikan seri RedHat Linux dan berkonsentrasi pada seri RHEL.

Sebenarnya, RedHat tidak menghentikan begitu saja seri RedHat Linux. RedHat menggagas dan mensponsori sebuah proyek baru di bidang linux dan open source, Fedora Project. Ide dasarnya adalah sebuah proyek yang disponsori oleh RedHat tetapi dikembangkan oleh komunitas besar opens ource (baca: bukan internal RedHat). Dengan kata lain, RedHat mengganti nama RedHat Linux menjadi Fedora Project dan menyerahkan pengembangannya kepada komunitas.

Di sinilah terjadi banyak kesalahan persepsi oleh banyak orang. Setelah lebih dari beberapa tahun (saya lupa tepatnya) RedHat beralih RH9 ke Fedora, hingga saat ini masih banyak orang menginstall RH9. Bukan karena pertimbangan stabilitas. Bukan pula karena pertimbangan sumber daya (pada umumnya software lama lebih hemat sumber daya dibanding software yang lebih baru). Tetapi karena menganggap bahwa RH9 adalah seri terbaru dari distro RedHat Linux.

Informasi lebih lanjut tentang sejarah Fedora Project dapat dilihat situs awal fedora di redhat atau situs resmi Fedora Project saat artikel ini ditulis.

Sebenarnya, RHEL adalah turunan dari Fedora Project. Atau lebih tepatnya Fedora adalah distro untuk menguji coba teknologi baru sebelum dimasukkan ke RHEL. Dalam hal ini RHEL lebih seperti Debian. RHEL adalah produk komersial yang harus dijaga kestabilannya. Hal ini berarti RedHat tidak bisa memasukkan secara terburu-buru suatu produk baru ke seri RHEL tanpa melihat dulu hasil uji pemakaian secara luas produk tersebut.

Ciri dari Fedora adalah “Bleeding-edge technology released early and often”. Jarak waktu antara satu versi dengan versi berikutnya bisa dikatakan sangat singkat (hitungan bulan, 2-3 kali dalam satu tahun). Hal ini memungkinkan teknologi baru dapat secara cepat diintegrasikan ke versi inti Fedora (Fedora Core).

Cepat terbitnya versi baru dari Fedora Core menjadikan Fedora tidak praktis untuk lingkungan komersial secara umum. Bayangkan jika anda harus mengupgrade (bukan mengupdate) server setiap 4 bulan sekali. Hal ini yang menjadi nilai lebih dari RHEL tetap menjadi pilihan bagi kalangan tertentu walaupun tidak bersifat gratis.

Mungkin timbul pertanyaan lagi. Mengapa saya dan banyak orang menggunakan Fedora? Banyak alasan yang saya miliki, apalagi ditambah alasan dari pengguna lain di seluruh dunia. Jawaban paling sederhana adalah Fedora merupakan distro paling identik dengan RedHat yang bersifat gratis alias free (as a beer). Ya, saya sudah sangat merasa nyaman mengadministrasi linux ala RedHat.

Sebenarnya ada alasan lain yang lebih dominan. Kembali ke “Bleeding-edge technology released early and often”. Hal ini memungkinkan saya banyak mencoba hal baru. Dengan mudah saya dapat mengaplikasikan topik-topik hangat di dunia open source. Bagaimana dengan kestabilan? Bagi saya itu tidak berpengaruh, bahkan hanya isapan jempol. Sifat “realesed early and often” bukan hanya pada major version saja, tetapi juga update per paket (package dalam hal ini RPM). Selain kecepatan terbit update terhadap suatu paket, saya juga mendapatkan kenyamanan dengan ketersediaan pilihan paket-paket dari pihak ketiga. Banyak repositori yang menyediakan paket-paket tambahan selain paket yang disediakan Fedora Core. Diantaranya adalah Fedora Extras (termasuk secara default dalam instalasi), Livna, FreshRPM, Dries, DAG. Livna merupakan standar bagi saya dalam arti merupakan repositori wajib. Walaupun bukan standar (saya disable) bagi saya, saya kadang-kadang mencari paket pada FreshRPM, Dries, dan DAG yang juga tergabung dalam RPMforge.

Tentu saja ada konsekuensi dari pilihan saya tersebut. Pada server-server yang saya administrasikan, saya tidak melakukan upgrade setiap versi baru dari Fedora Core diterbitkan. Bagi saya upgrade versi terlalu beresiko. Saya lebih suka mengupdate paket per paket RPM hingga berhentinya support terhadap versi yang saya gunakan. Biasanya saya mempertahankan setiap server pada versi suatu Fedora Core sekitar 2-4 tahun sampai versi tersebut benar-benar dihentikan update supportnya. Ketika Fedora Project menghentikan support terhadap suatu versi, versi tersebut akan pindah ke Fedora Legacy. Pada masa tersebut, update paket-paket RPM dapat diperoleh dari Fedora Legacy. Ketika Fedora Legacy menghentikan support terhadap versi itu, barulah saya akan beralih ke versi terbaru dari Fedora Core. Menurut saya, usia 2-4 tahun merupakan usia yang cukup buat suatu server.

Jadi, silahkan coba Fedora… Atau mungkin anda memiliki pandangan lain? Karena itulah inti dari banyak beredarnya distro-distro Linux. Semua punya rasa sendiri walaupun pada intinya adalah satu, Linux.

PS: Saya sangat mengharapkan adanya komentar-komentar mengenai hal ini. Silahkan berkomentar. Positif maupun negatif (tentu saja ada batasan yang pasti anda ketahui). Atau anda butuh bantuan, jangan ragu-ragu kontak saya.

Sebagai referensi saja, Panduan Pembakuan Istilah, Pelaksanaan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2001 Tentang Penggunaan Komputer dengan Aplikasi Komputer Berbahasa Indonesia.

My main desktop is Linux Fedora Core 5 (FC5). For my daily activities (web programming and network administration), I feel much more comfortable to use it than using M$ Windows. But how about the entertainment? Entertainment is a place where many peoples think linux is suck. But not me.

You wanna view mpeg, avi, vcd, dvd movies? You can use MPLAYER. Or you can use gstreamer’s based player like totem. Another alternative is VLC (initially VideoLAN Client). But I have no lucks with VLC in FC5.

Of course, you can use video player have been described to listen the music. But for special purpose music listening, there are a lot of many great application you can use. First, there is XMMS, a player with an interface similar to Winamp’s (i prefer to say it as a clone). If you prefer using GTK2 as a based, you can try Beep Media Player (BMP). BMP is a fork of XMMS. But, because it’s based on GTK2, it provides Gnome VFS support so you can play any file as you browse it on Nautilus (correct me if I’m wrong). But BMP is discontinued, and has a new brand BMPx. BMPx is the continuation of the XMMS-based BMP (sometimes referred to by people as “BMP classic”) as a product, but it shares almost no code with it at all, and has been generally rewritten from the ground up with none of the old code in mind. Sadly, I don’t like BMPx. It’s still not mature enough.

If you like Apple iTunes, try Rhythmbox. It support’s DAAP Protocol so you can access and share the music on your LAN. For another alternative, use mono based Banshee. If you have problem accessing file via DAAP and you are using ndiswrapper wireless adapter, try to use the cable.

What about gaming? One of game I play a lot is OpenTTD, a remake and improvement of Transport Tycoon Deluxe.

Setelah sekian lama, akhirnya nemu juga tools buat posting yang enak ke blogger. Sekarang gw pake Drivel. Ada ide laen?

Minggu malam kemaren, akhirnya sakit juga gua setelah nahan selama dua minggu. Gejalanya kaya diare… muntah-muntah plus punteun.. mencret-mencret. lumayan parah. jadi gua terpaksa istirahat..

Untungnya… gua jadi ada waktu buat istirahat dan baca-baca. Tadinya gua mau baca Da Vinci Code, tapi gara-gara nyoba-nyoba plucker di palm gua, jadinya malah baca The Art of Unix Programming.

Lumayan rame buat bacaan para programmer unix… Coba deh…

Sejak kemarin setup SmokePing di noc.trisetia.net.

SmokePing adalah tools buat mencatat waktu ping dan lost dengan menggunakan rrdtool.