Setelah berbulan-bulan tidak berhasil mengaktifkan plugin WP-OpenID di salah satu instalasi wordpress saya, akhirnya berhasil juga menemukan permasalahannya. Ternyata plugin ini tidak kompatibel dengan plugin BackUpWordPress.
Selain melakukan migrasi server dan upgrade ke wordpress terbaru, saya juga memutuskan untuk mengganti url dari blog ini. Sebagai ganti dari http://wp.adhisimon.or.id/wordpress, saya meringkasnya menjadi http://adhisimon.or.id/ saja.
Untuk mencegah broken link dari situs-situs yang telah menunjuk ke url lama, saya menggunakan mod_rewrite dari apache, sehingga postingan di blog ini dapat diakses melalui url baru maupun lama. Akan tetapi, saya memohon kepada kawan-kawan yang memasukkan blog ini ke blogroll masing-masing, agar memutakhirkan link ke blog ini menjadi url baru.
Blog ini baru saja migrasi ke server lain. Selain itu, backend wordpress di blog ini juga telah diperbaharui ke versi 2.3.3.
Satu lagi blog saya launching, Pake Linux. Blog ini ditujukan untuk memuat tulisan-tulisan mengenai pemakaian Linux (tentu saja mungkin berlaku buat OS berbasis Unix lainnya) dan dunia Opensource.
Dengan beberapa blog yang spesifik pada suatu topik, blog ini (this is adhisimon) dapat semakin “dikonsentrasikan” sebagai personal blog saja.
Sekedar variasi buat menghilangkan rasa jenuh, akhirnya saya membuat situs koleksi lirik-lirik lagu di Jejaring Lirik. Saya memilih menggunakan WordPress sebagai mesin di balik situs tersebut. Pemilihan ini berdasar pada kesederhanaan pengoperasiannya, walaupun mungkin WordPress sebenarnya didesain sebagai mesin untuk ngeblog.
Jika ada kawan-kawan yang ingin turut berkontribusi di situs lirik, silahkan hubungi saya di lirik@jejaring.info agar saya dapat membuatkan account kontributor di situs tersebut.
Belakangan ini, bisa dikatakan performansi ngeblog saya jauh menurun. Dari “buruk” menjadi “sangat buruk”. Jarak waktu antar posting semakin besar. Selain itu, saya pun lalai dalam membalas komentar-komentar dalam waktu cepat. Bahkan ada beberapa komentar yang baru terbalas sampai lebih dari satu bulan. Mohon maaf bagi para “commenter” yang mengalami hal ini.
Di situs Gravatar, disebutkan bahwa mereka akan beroperasi kembali pada awal Februari. Akan tetapi, hingga kini, ketika awal Februari sudah hampir terlewati, belum ada tanda-tanda pembuktian janji tersebut. Ini bukan pertamakali Gravatar menjanjikan waktu beroperasinya kembali. Sampai kapan anda akan terus membuat janji? Atau mungkin saya terlalu cepat menyimpulkan arti Februari, karena tidak disebutkan tahunnya. Mungkin maksudnya bukan Februari 2007, tetapi Februari 2008, atau mungkin Februari 2020?
Gravatar, kami ingin bukti, bukan janji! Stop membuat pernyataan yang tidak dapat anda yakini apakah dapat anda penuhi atau tidak.
Pertama-tama, izinkanlah saya mengucapkan selamat datang di dunia blog kepada kawan saya Sophie. Jangan salah, sophie itu panggilan akrab saya untuk seorang pria yang sebenarnya bernama Sofian Sahori. Seorang mantan mitra usaha saya. Satu lagi kawan berhasil saya racuni untuk ngeblog. Cihuy :D
Pada posting pertama di blog tersebut, beliau menyatakan tidak mengerti mengapa saya memintanya untuk menulis blog. Oleh karena itu, kembali saya menulis sebuah topik yang rasanya tidak akan pernah berkesudahan: Mengapa ngeblog?
PERHATIAN: Isi tulisan ini sangat bersifat pandangan pribadi yang mungkin tidak disetujui oleh banyak pihak atau bahkan mungkin sebaliknya, terlalu umum sehingga dapat disebut BASBANG (Basi Banget). Bahkan penulis merasa bahwa tulisan ini sangat bertele-tele.
Beberapa waktu lalu, ramai dibicarakan oleh “netter” mengenai pemberian komentar pada blog seleb dan non seleb, termasuk “jablai blog” juga diributkan (mohon maaf buat para warga kampung gajah, saya mengutip istilah jablai blog walaupun saya bukanlah anggota kalian). Diceritakan bahwa banyak kawan frustasi karena blognya sepi pengunjung, dal hal ini ditandai oleh sepi atau bahkan tidak adanya komentar pada blog mereka. Padahal, mereka merasa “cukup rajin” dalam berkomentar pada blog-blog lain, khususnya blog seleb. Hal ini sampai memancing timbulnya “lelucon” gerakan agar tidak berkomentar di blog seleb, sehingga diharapkan menimbulkan “keseimbangan komentar” antar blog pemula maupun blog seleb.
Pada banyak weblog, seringkali kita menemui avatar pada bagian komentar-komentar. Saat ini, bisa dikatakan secara de-facto solusi avatar yang paling banyak digunakan adalah dengan menggunakan Gravatar. Gravatar memungkinkan pengunjung weblog tidak perlu mendaftarkan dirinya pada tiap-tiap weblog agar avatarnya muncul dalam setiap komentar yang dibuatnya. Cukup memasukkan alamat email yang dimiliki oleh sang pengunjung, secara otomatis avatar terkait akan muncul pada komentar tersebut.
Tapi kini Gravatar memiliki masalah setelah berbulan-bulan berada dalam posisi “DOWN”. Di masa awalnya, sistem “tersentralisasi” yang dianut oleh Gravatar tidak dirancang untuk melayani avatar sebanyak saat ini. Dikatakan bahwa Gravatar melayani lebih dari 4,5 miliar avatar saat ini. Akhirnya dilakukan update terhadap sistem lama untuk memenuhi kebutuhan saat ini. Tetapi perbaikan ini berlarut-larut. Setelah berbulan-bulan menunggu, tampaknya saya tidak dapat menahan kesabaran saya lagi terhadap Gravatar. Begitu pula dengan banyak pihak. Tampaknya, Gravatar akan kehilangan statusnya sebagai penguasa de-facto avatar dalam dunia weblog. Kecuali dia berhasil mengonline-kan kembali layanan dalam waktu dekat.
Beberapa alternatif telah saya coba. Diawali dengan Favatars. Favatar menggunakan favicon dari URL sang pengunjung yang memberikan komentar. Berdasar URL tersebut, sistem akan dilihat apakah website tersebut memili favicon. Jika ada, favicon tersebut akan ditampilkan. Desentralisasi terjadi di sini karena avatar yang merupakan favicon tersebut diambil langsung dari situs web pemilik komentar. Sehingga ketergantungan akan satu pihak penyedia jasa dapat dihindari. Masalahnya, tidak semua pengunjung yang memberikan komentar memiliki situs web dan/atau dapat mengatur favicon terkait. Berbeda dengan gravatar yang menggunakan alamat email sebagai ID dimana bisa dikatakan hampir semua pengunjung pasti memiliki alamat email. Selain itu, belum tentu favicon dari situs yang dimiliki oleh pengunjung tersebut dikehendaki oleh sang pengunjung sebagai avatarnya. Sebagai contoh, blogger yang memiliki blog wordpress.com akan memiliki avatar berupa logo WordPress, bukan foto dirinya seperti kebanyakan yang diinginkan banyak orang.
Kemudian ada lagi Pavatar. Sama dengan Favatar, ia menganut sistem desentralisasi sehingga kebal terhadap masalah “DOWN” satu pihak yang dapat mengakibatkan “DOWN” seluruh sistem. Perbedaannya adalah dia tidak menggunakan favicon situs web pengunjung. Pavatar menggunakan file gambar yang bisa ditentukan oleh halaman indeks dari situs web pengunjung. Hal ini menjawab masalah kedua dari Favatar, dimana pengunjung dapat menentukan apakah favicon yang dimiliki olehnya juga menjadi avatar dirinya atau tidak. Akan tetapi permasalahan pertama dari Favatar, dimana tidak semua pengunjung memiliki situs web, tidak dapat terselesaikan.
Kembali ke model sentralisasi. Lepas dari masalah skalabilitas sistem, bisa dikatakan hanya model ini yang memungkinkan pengunjung-pengunjung memiliki avatar tanpa harus memiliki situs web atau mendaftarkan dirinya di tiap weblog. Hal ini mendorong penggunaan layanan-layanan lain sebagai pengganti Gravatar. Diantaranya adalah dengan menggunakan avatar pada MyBlogLog. Saat ini saya sedang mencoba penggunaan metoda ini. Plugin yang saya gunakan agar instalasi WordPress saya ini dapat menggunakan avatar dari MyBlogLog adalah MyAvatars. Sayangnya, MyBlogLog tidak sepopuler Gravatar. Tidak banyak pengunjung yang memiliki avatar pada MyBlogLog.
Atau mungkin ada ide alternatif lain?




