Pratama Setiaputra Adhidarma, itulah nama yang kami berikan kepadanya, putra pertama kami. Tentu saja ada sejarah dibalik pemberian nama tersebut.
Sebelum kami menikah, istri saya sering menyebut banyak nama yang menurutnya indah untuk seorang anak laki-laki. Saya selalu meledek, “Terserah kamu ngasih nama apa, pokoknya aku manggilnya Ujang Ucup.” Setelah itu pasti dia cemberut. Mungkin karena merasa sebal saya mau memberikan nama yang tidak seperti nama yang biasa diberikan orang tua masa kini.
Setelah kami menikah dan di awal masa kehamilan istri saya, kami mulai sibuk mencari nama. Entah berapa buku kumpulan nama anak telah dibeli oleh istri saya.
Untuk nama belakang, sejak awal, dan juga bahkan sebelum menikah, istri saya sudah ngotot harus memakai nama saya. Jadi, tanpa pusing kami menambahkan kata “Adhidarma” di belakang namanya.
Kemudian, saya ingin menyisipkan juga nama istri saya. Biar adil. Nama belakang istri saya adalah “Setiawati”. Tidak mungkin saya menaruh kata “Setiawati” ke dalam nama anak laki-laki. Akhirnya saya penggal, menjadi “Setia” dan akan digabungkan dengan “putra” atau “putri” menjadi “Setiaputra” jika laki-laki atau “Setiaputri” jika perempuan.
Anehnya, untuk nama depan kami hanya menemukan nama yang menarik untuk bayi perempuan. Muncul feeling dalam benak saya, “Pasti anaknya nanti laki-laki, jadi nama ini pasti tidak jadi terpakai untuk anak ini.”
Benar saja, setelah hasil USG berhasil menampilkan jenis kelamin (atau lebih tepatnya “alat kelamin”) dari jabang bayi yang sedang dikandung istri saya, kami kelabakan untuk mencari lagi nama untuk calon bayi kami.
Sempat beberapa bulan kami tidak juga mendapatkan nama yang “sreg”. Kadang kami merasa cocok dengan suatu nama, tapi ada saja entah anak tetangga, atau saudara yang telah bernama sama. Kalau sama dengan anak teman sih masih mending. Tapi kalau anak tetangga atau saudara, takut ketukar-tukar ketika kita memanggilnya. Untung saja diakhir-akhir masa kehamilan istri saya, saya mendapatkan ide.
Berhubung ini calon anak pertama saya, kami berikan nama depan “Pratama”. Sebenarnya Pratama itu bukan berarti “pertama”, melainkan “yang utama”. Tapi nyerempet sedikit tidak apa-apa kan.
Jadilah nama “Pratama Setiaputra Adhidarma”.
Mengapa tiga kata? Padahal nama saya sendiri hanya satu kata. Justru itu berdasar pengalaman saya. Saya sering kesulitan mengisi form yang selalu menanyakan nama depan dan nama belakang. Terutama form di web. Bahkan sering kartu kredit saya ditolak untuk transaksi online karena tidak memiliki nama belakang. Oleh karena itu, saya tidak ingin menyusahkan anak saya di kemudian hari sehingga saya sejak awal berniat memberikan anak saya nama yang minimal terdiri dari dua kata.





8:30 +0000 on December 8th, 2006
thanks mas…bisa jadi inspirasi nih.. :-D
lam kenal ya…
11:52 +0000 on December 8th, 2006
Salam kenal juga mas cahyo ;)
16:30 +0000 on December 8th, 2006
He he he.. Ooo itu toh sejarahnya, jadi gitu yah pengalaman yang punya nama cuma satu kata aja :D
17:42 +0000 on December 8th, 2006
Yo’i ver, repot kalo ditanya last name. Kartu kredit gw pernah ditolak buat online transaction gara-gara gak bisa isi last name, padahal nama di kartu kredit emang cuma satu kata. Sampe kepikir buat apply kartu kredit lagi tapi pake nama yang dua kata.
13:40 +0000 on December 12th, 2006
Mon.. kalo ente susah gara gara kartu kredit ngga ada nama belakang.. kan banyak tuh marga marga yang bisa di pinjam… Simanjuntak dari gua.. Simamora dari Berlin, Situmorang dari Susi… Silobahutang dari siapa ya…
hahahahaha
14:08 +0000 on December 12th, 2006
Ide bagus tuh, next time gua kalo apply kartu kredit baru pake nama “Adhidarma Silobahutang” aja kali yaa ;)
21:05 +0000 on August 12th, 2007
mas,,kok dah jarang posting,,
hayuk,,
oya dah ditanyain blm hp merahnya?mending itu atau razr v3i ya mas?
bingung nih diah,,
16:43 +0000 on August 14th, 2007
heu-euh nih.. lg gak nemu mood dan ide buat nulis.
btw, diah juga dah jarang posting.