Setiap tahun, Ramadhan dan Idul Fitri memang selalu memberikan kesan berbeda pada hidup saya. Tetapi untuk tahun ini, saya akui benar-benar “berbeda”.
Hari pertama puasa tahun ini diawali dengan hal yang menarik. Saya tidak sedang di Indonesia. Entah dimana lokasinya saya lupa. Yang jelas sedang di pesawat udara. Tidak tanggung-tanggung, buka puasa saya menggunakan red wine. Mantap. Melihat pramugari menuangkan minuman ke gelas saya, teman seperjalanan saya, Harry Prasetyo, ikut-ikutan memesan apa yang saya pesan ketika pramugari menanyakan kepada dia apa yang dia inginkan untuk minum. Kata dia “same with him” sambil menunjuk saya. Ketika pramugari membereskan sisa-sisa makanan, ternyata gelas dia masih penuh. Pas saya tanya, dia sambil cengengesan dia menjelaskan ke saya bahwa dia pikir saya memesan jus anggur (grape juice). Kebayang muka dia pas nyeruput itu gelas. Hehehehe. Kalau tahu dia tidak akan menghabiskan itu gelas, saya embat tuh. Kapan lagi ada kesempatan kayak gini.
Selain itu ini adalah tahun pertama saya berpuasa dengan anggota keluarga terbaru kami, anak pertama kami, Pratama Setiaputra Adhidarma. Walau bisa dikatakan saya hanya bersama anak dan istri saya pada weekend saja, tetapi ini sudah sangat memberikan warna pada Ramadhan tahun ini. Sebab hari-hari saya ketika berpuasa bersama istri dan anak banyak diisi dengan menemani Pratama, terutama megangin dot susu dia. Bayi kami ini pulalah yang sangat membanggakan di waktu lebaran. Maklum, jadi ada acara “baby show” mamerin Pratama ketika kerabat-kerabat datang bersilaturahmi. Dan ini adalah tahun pertama pula saya mudik ke Jakarta membawa anak. Sangat membanggakan. Buat yang belum menikah, buruan menikah dan punya anak. Dijamin puas dan tidak kecewa :p
Kemudian, keseharian saya pada Ramadhan tahun ini adalah di kantor. Walaupun penghuni di ruangan saya termasuk yang paling lengkap puasanya (yup, kami semua satu ruangan full puasanya), tetapi kurang ajarnya rekan-rekan lain banyak menggunakan ruangan kami sebagai tempat ngumpet untuk makan, minum, dan merokok. Mungkin karena lokasi ruangan kami yang terpisah di pojokan. Selain itu, saya merasakan “nikmatnya” sahur yang itu-itu saja, karena kesulitan mencari warung yang buka dan menjual makanan untuk sahur di dekat kantor. Ditambah dengan porsi nasi sahur yang benar-benar super banyak. Seringkali saya dan kawan-kawan tidak dapat menghabiskan porsi sahur kami. Walaupun kita telah memesan setengah porsi, tetap super banyak. Akhirnya belakangan saya selalu memesan seperempat porsi nasi. Tapi kadang-kadang suka lupa juga.
Sedihnya, seperti beberapa tahun terakhir ini, Ramadhan saya lewatkan tanpa melakukan shalat tharawih barang satu rakaat pun walaupun puasa saya alhamdulillah selalu penuh. Astaghfirullah. Mudah-mudahan kesalahan ini dapat saya perbaiki di tahun yang mendatang.





7:20 +0000 on September 28th, 2008
permisiii….
aku pinjem gbr ketupatnya yaa…